Pages

  • Home
  • About
  • Contact
instagram goodreads linkedin

Travel in Between

    • Home
    • Gap Year
    • Lifestyle
    • Self-Improvement
    • Travel
    • Writing

    Aku apresiasi segala hal baik yang pernah kita lakukan bersama, pula hal-hal kurang baik yang menjadi bagian dari sebuah perjalanan untuk tumbuh.

    atas waktu yang selalu kita usahakan, pertemuan-pertemuan singkat di akhir pekan, dan hal-hal sederhana lainnya. Aku berterima kasih untuk itu.

    Tidak mengharap lebih untuk bab-bab baru pada cerita tentang kita, hanya saja bersamamu aku merasa dua kali lebih bahagia. Terima kasih telah membuat aku menjadi aku saat kita bersama, juga telah membiarkan dirimu menjadi rumah sementara.

    Kita adalah hal yang tidak pernah aku sesali.
    Kedai kopi sore itu merupakan saksi betapa aku bersyukur atas pertemuan kita. Sebab kamu adalah kado terindah dari semesta ditahun ini.

    Terima kasih telah mengambil peran didalam cerita ku. Aku ingin mengingatmu sebagai tokoh yang baik, sehingga mengenangmu tidak terasa menyakitkan lagi.

    Seperti yang pernah aku katakan padamu di hari perpisahan kita, aku hanya ingin kamu bahagia. Maka, mari saling membahagiakan dengan cara bahagia masing-masing.

    Know you in person was a blessing and met you was a good decision i've ever made, no matter how bad the ending it seems.
    Continue Reading

    Pernah nggak berfikir kenapa ada suka dan duka, ada tawa dan tangis, ada pagi dan malam, ada hitam dan putih?
    Itu karena semesta selalu mencari keseimbangan atau biasa disebut dengan dualisme kehidupan.
    Konsep dualisme ini bukan hanya sebuah ide atau gagasan, melainkan sebuah kenyataan, realitas atau sesuatu yang mutlak dan pasti terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

    Kadang manusia cuman bisa menerima senang, lupa bahwa setelah senang selalu ada sedih menanti. Ingin hidup jalan lurus-lurus aja, lupa bahwa tiap jalan ada naik turun belok kanan belok kiri jangan lupa ngerem kalau nggak mau kenapa-kenapa.

    Semakin bertambah umur gini, jujur takut merasakan bahagia yang terlalu, sebab takut merasakan sedih yang terlalu juga. Tiap merasa hidup terlalu baik-baik aja atau lurus-lurus aja, ternyata di situ lah letak masalahnya.

    Walaupun begitu, tetep yakin aja tiap yang terjadi dalam hidup ini pasti ada pembelajaran yang bisa diambil, karena manusia memang ditakdirkan untuk selalu belajar, kan?

    Seperti itu lah kehidupan yang selalu mencari keseimbangan. Sekarang tinggal balik lagi aja ke manusianya, menemukan cara untuk mengontrol respon dari sesuatu yang masih bisa dikendalikan. Dan kuncinya, dijalanin aja. Dinikmatin setiap momen yang hadir baik suka maupun duka.

    Apapun itu memang nggak baik berlebihan. Dirasakan saja sewajarnya, agar ketika senang maupun sedih datang, setidaknya sebagai manusia yang memiliki keterbatasan ini masih sanggup untuk menikmatinya.
    Continue Reading

    Kenapa kita harus memaafkan?

    Layaknya manusia, perihal memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan. Karena kita semua punya ego. Ego ingin menang, ego ingin menjadi juara.

    Tidak jarang ego manusia selalu menuntut bahwa dia adalah yang paling benar dan terbaik. Rasanya setiap manusia pernah ada di posisi ini. Sudah sakit, harus memaafkan pula. Memangnya aku malaikat yang punya hati seputih salju?

    Namun, kalau berpikir kembali, tidak memaafkan bukanlah sebuah jawaban. Kebencian maupun dendam bukan solusi.

    Seperti tulisan saya sebelumnya tentang mencintai diri sendiri, salah satu cara mencintai diri adalah dengan memaafkan.
    Memaafkan ini bukan hanya tentang memaafkan apa yang telah orang lain lakukan kepada kita, pun perihal memaafkan diri sendiri maupun keadaan.

    "Memaafkkan itu untuk melepaskan rasa sakit, untuk kembali mengizinkan diri merasakan bahagia."

    Namun apabila ditelisik lebih jauh lagi, bukankah hidup dengan kebencian dan dendam akan jauh lebih sulit daripada memaafkan?
    Setiap kali melihat orang yang sudah menyakiti kita, tentu yang timbul hanyalah rasa amarah, penuh doa-doa buruk, dan perasaan negatif lain yang membuat hidup suram dan kehilangan warnanya.

    Proses memaafkan ini memang tidak mudah. It takes time. Butuh waktu, proses, dan pembelajaran seumur hidup. Yang terpenting memang ada tujuan untuk memaafkan, maka prosesnya silakan jalani dengan pelan-pelan.


    "Memaafkan juga berarti melepaskan dampak buruk yang dia berikan. Memaafkan bukan berarti kalah, justru saya adalah pemenang."

    Setelah rasa sakit yang dia berikan, saya memilih untuk memaafkan. Saya memilih untuk bahagia.
    Continue Reading

    Untuk teman-teman yang sedang merasa tidak baik-baik saja, sedang diabaikan, tidak dianggap, menjadi pilihan kedua, merasa tidak berguna, dan sedang dipatahkan hatinya entah karena cinta atau oleh siapa apapun itu.
    "Believe me, you are worth more than that.

    Mencintai diri sendiri memang nggak mudah. Kadang lebih sulit daripada mencintai orang lain. Namun, kalau mencintai diri sendiri aja belum bisa utuh, bagaimana bisa tulus menyalurkan cinta kepada yang lain?

    Ketika kita sudah mencintai diri sendiri, kita nggak akan membiarkan orang lain untuk menyakiti kita, merendahkan kita, apalagi sampai membuat kita merasa tidak berharga. Di titik ini lah pentingnya mencintai diri sendiri.

    Kalau sekarang lagi sedih dan merasa nggak baik-baik aja, lepaskanlah semua. Biarkan energi negatif itu keluar, karena memendamnya nggak akan menyelesaikan masalah sama sekali.

    Kalau itu sudah dilakukan, selanjutnya adalah menerima.

    Menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kendalikan. Itu semua baik-baik saja. Begitu lah cara semesta bekerja. Begitu lah roda kehidupan berputar. Dan itu bukan salah kita. Sama sekali.

    Rasanya, nggak ada satu pun di dunia ini orang yang pengen punya masalah. Nggak ada orang yang pengen merasakan sakit.
    Siapa, sih, yang nggak pengen hidup sempurna? Semua hal berjalan stabil dan sesuai dengan yang diinginkan adalah impian hampir semua orang.
    Namun, nggak ada kehidupan yang sempurna. Maka dari itu, mari belajar menerima semua yang hadir maupun yang hilang.

    Nikmatilah rasa, baik lara, duka, maupun sukacita.
    Rasakan seadanya, tidak perlu sedih berlarut-larut, pun jangan gembira penuh euforia sampai lupa segalanya.
    Lagi,
    Itu semua tidak mudah memang, Tapi begitu lah satu-satunya cara tetap menjaga kewarasan.

    Tidak berhenti hanya  sampai menerima kehidupan seutuhnya saja. Pun, perlu memaafkan. Memaafkan diri sendiri yang masih suka lupa diri. Maafkan diri yang tidak selalu memilih pilihan terbaik. Maafkan diri ini yang masih gagal memproteksi diri dari kesedihan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Maafkan diri masih memberikan orang lain ruang untuk menyakiti.
    Juga memaafkan keadaan yang tidak berjalan sesuai keinginan.
    Maafkan dan berdamailah.

    Kecewa dengan diri sendiri pun adalah rasa yang perlu dinikmati. Lagi-lagi, maafkanlah.

    Satu-satunya hal yang kita punya dan akan selalu setia dalam kehidupan ini hanyalah diri sendiri. Maka, sayangi dan cintailah. Diri ini pun ingin mendapatkan apresiasi, ingin dihargai, dan ingin dibahagiakan.

    Setiap manusia itu punya value. Juga kita.
    Berhenti lah mencari mereka yang tidak bisa melihat dan menghargai value yang kita miliki. Pergi dan lepaskan lah genggaman itu, mari cari tempat yang lebih baik yang lebih bisa menghargai kehadiran kita.

    Percayalah, ketika kita sudah mencintai diri sendiri, kita pun akan menghargai diri ini.
    Maka, jangan lagi terjebak pada orang atau situasi yang salah.

    Kita sama-sama tahu betapa sulitnya menerima keadaan yang tidak sempurna, berusaha berdamai pada hal-hal yang tidak utuh, oleh karenanya jangan pernah lagi memberikan kesempatan pada mereka yang tidak bisa menerima kehidupan kita, atau parahnya tidak bisa menghargai value yang kita punya.

    Karena dengan menerima semua yang ada pada diri ini, baik kekurangan maupun kelebihan, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk menerima kehidupan orang lain. Ini tidak hanya kepada pasangan, ini juga berlaku untuk teman-teman.

    Kita mungkin lahir dari keluarga yang tidak sempurna, dari lingkungan yang kurang baik, dari hal-hal tidak menyenangkan lain yang berada di luar kendali kita.
    Lantas itu tidak semata-mata membuat kita tidak berharga.
    Kita tetap satu kesatuan yang utuh.

    Kita yang menentukan bagaimana kita bersikap, bagaimana kita mengontrol reaksi dari apa yang orang lain lakukan pada kita, dan kita pula yang mengizinkan mereka boleh atau tidaknya menyakiti kita.
    Sisanya, serahkan pada semesta. Biarkan semesta bekerja.

    Karena kita hanya punya diri ini.
    Aku, kamu, kita semua berharga.
    Continue Reading

    Hidup tuh memang selucu ini ya.
    Kalau kemarin masih baik-baik aja, belum tentu hari ini.
    Yang hari ini masih ada, belum tentu besok tetap tinggal.
    Ketika cuma harapan yang jadi satu-satunya penguat hidup, lalu, saat harapan itu lepas, pergi, hingga akhirnya benar-benar hilang. Rasanya...hampa. Sesak. Sakit. Hampir gila.
    Kehilangan memang nggak pernah mudah. Seberapapun ukurannya.

    Ketika hampir setengah kisah hidup dibagi dengannya, maka, ketika si pendengar kisah hilang, rasanya seperti...setengahnya diri ini ikut menghilang. Apalagi yang pernah diceritakan adalah bagian-bagian hidup yang nggak sembarang orang tahu.
    Harus mencari sebagian yang telah dicuri, menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah hancur berserakan.
    Hasilnya? Tentu, tidak akan sama seperti awal mula. Memang satu, tapi tidak lagi utuh.

    Nyatanya, merelakan kehilangan itu nggak semudah bicara. Butuh proses panjang dan kompleks.
    Setengah hati menjalani proses tersebut sambil terseok-seok, sesekali mengambil nafas dalam dan menghembuskannya penuh beban.

    Menangis berkali-kali pun tidak akan mengubah kenyataan. Maka jalan satu-satunya hanyalah menerima lalu melepaskan hingga akhirnya merelakan.

    Ya sudahlah.
    Untuk teman-teman yang sedang merelakan, proses ini memang tidak mudah dan menyakitkan.
    Tapi, harus kuat dan tegar. Semuanya demi diri ini. Karena cinta diri sendiri. Nggak mau merasakan sakit terlalu lama, apalagi sesak yang suka datang tiba-tiba.
    Cukup.
    Kita jangan lagi menjadi bagian dari mereka yang terjebak masa lalu terlalu lama, sampai-sampai menyakiti yang tulus baik hatinya.

    Aku menunggu, kejutan lain dari semesta di depan sana.
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Pageviews

    About me

    Photo Profile
    Zahra
    Human Being

    Hi, i'm Zahra. I'd love to share about my life experiences and my healing journey. Rara's space is home for me since 2012 and I want this to be your home too. Feel free to greet me at the first place! Let's be friend :)

    KNOW ME MORE

    • goodreads
    • instagram
    • wattpad

    Tags

    Gap Year Lifestyle Self-Improvement Travel Writing

    Let's Be Friends!

    Sign UP

    Name

    Email *

    Message *

    Blogger Perempuan
    instagram goodreads linkedin

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top