Pages

  • Home
  • About
  • Contact
instagram goodreads linkedin

Travel in Between

    • Home
    • Gap Year
    • Lifestyle
    • Self-Improvement
    • Travel
    • Writing


    Tulisan ini adalah salah satu request dari salah satu pembaca yang sempat nge-dm saya beberapa tahun lalu. Udah lama banget. Kurang lebih yang ingin diketahui adalah gimana sih kehidupan mahasiswa?

    Dulu, saya pikir membuat tulisan ini akan mudah. Tapi ternyata butuh waktu lama untuk saya bisa menuliskan tentang topik ini, pada akhirnya tulisan ini baru saya tulis pasca saya lulus kuliah sarjana alias pas bukan mahasiswa lagi!

    Menjadi Maha diatas Siswa, apa istimewanya?
    Menjawab pertanyaan tersebut, setelah saya kilas balik dari pengalaman saya selama 4 tahun jadi mahasiswa, ada sebuah perbedaan yang cukup signifikan antara mahasiswa dan siswa. Menurut saya sih mungkin saja hal inilah yang mendasari ada kata "maha" diatas "siswa". Dan itu adalah kebebasan.

    Saat jadi mahasiswa, kamu adalah jiwa liar yang bebas dan bertanggung jawab. Ini adalah saat-saat terbaik untuk kamu berproses dalam membentuk karakter yang kuat dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Kampus adalah tempat dimana kamu akan selalu merasa lapar! Itu adalah tempat terbaik untuk mengisi pikiran dan mentalmu dengan ilmu-ilmu baru, pengalaman yang tak terlupakan, dan menebar jaring untuk membangun relasi seluas-luasnya. Di perkuliahan kamu akan ketemu dengan banyak tipe orang, dari a-z, dari yang paling pendiem sampai yang paling narsis.

    Menjadi mahasiswa adalah saat dimana ketika kamu boleh melakukan kesalahan dan itu adalah hal yang bisa diwajarkan. Mahasiswa juga adalah status yang akan membuatmu bisa diterima di semua lapisan masyarakat!
    Wow, sounds powerful, right?
    Yap, memang. Mungkin kamu belum menyadarinya, tapi status mahasiswa itu adalah saat dimana kamu bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan pendekatan dengan kaum-kaum minoritas yang selama ini mendapat diskriminasi, dan secara bersamaan kedatanganmu pun akan diterima oleh orang-orang berdasi yang memiliki jabatan tinggi. 

    Nggak sedikit saya dengar orang bilang, buat apa sih sarjana? Hari gini sarjana banyak yang nganggur!
    Pendapat saya, kuliah itu bukan sekadar tempat mencari gelar untuk kelak kerja. Tapi maknanya lebih daripada itu.
    Perkuliahan adalah tempat dimana ruang-ruang diskusi terbuka lebar. Kita bisa berpendapat tentang apapun, kita bisa menyuarakan hal-hal yang kita perjuangkan, kita bisa membicarakan hal-hal yang dianggap tabu sekalipun. Ini adalah saat dimana kita menentukan arah kemana tujuan selanjutnya akan berlabuh, ini juga saatnya untuk mengenyangkan otak dengan ilmu-ilmu yang selama ini bikin kita penasaran.

    Menjadi mahasiswa adalah waktu untuk kita untuk berpikir kritis dan membuka jendela analisis. Dan kampus adalah sarana yang membentuk pola pikir.
    Dosen saya pernah bilang, ketika kamu kuliah itu artinya kamu dituntut untuk berfikir 5 bab. Runut dari pendahuluan sampai simpulan. Bukan hanya sekadar fafifuwasweswos tanpa dasar tanpa data atau debat kusir yang tiada akhir.

    So, jika kalian masih berada di bangku perkuliahan dengan status mahasiswa, manfaatkanlah waktu itu dengan sebaik-baiknya. Ikuti komunitas apapun itu yang menarik minat kalian, ikut volunteer di dalam dan di luar kampus agar paham bahwa dunia isinya ga cuma kamu doang. Ini waktunya kalian untuk belajar, untuk berpendapat, dan jangan pernah takut untuk salah. Tapi, jangan sampai kebebasan itu kebablasan, karena itu yang akan merenggut kebebasan kalian.


    Hidup Mahasiswa!
    Continue Reading

    Well, setiap dari kita tentunya pernah ada di fase merasa rendah diri. Menghadapi pikiran-pikiran berlebihan yang setiap saat menghantui sampe rasanya pengen nangis, nggak bisa tidur, tapi, nggak bisa ngapa-ngapain!

    Ditambah lagi dengan habit buruk yang suka banding-bandingin diri dengan orang lain. Merasa orang lain itu lebih di atas kita.
    Ya enak elo mah cantik? Lah gue?
    Muka gue lagi breakout nih, gue insecure! 
    Gue ngga lulus-lulus nih, jadi insecure ketemu temen.

    So, What is Insecurity?

    Insecurity adalah keadaan dimana kita merasa kurang  mendapatkan validitas  dari lingkungan.
    Untuk merasa cantik, pintar, langsing, dan sempurna, kita butuh validasi dari orang lain. Validasi itulah yang membuat kita percaya diri dan merasa bahwa diri kita diakui oleh lingkungan.
    Validasi dari orang lain nggak selamanya buruk, lho ya, tentunya sesekali pengakuan atau pujian dari orang lain bisa membangkitkan rasa percaya diri dan bikin kita semangat.
    Tapi, kalo setiap saat merasa butuh validasi dari orang lain itu berarti sama aja kita nggak percaya dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki.
    Misalnya nih, kamu lagi hangout sama temen-temen, tapi kamu merasa insecure karena kurang cakep. Padahal, realitanya setiap orang punya pemikiran tentang kekhawatiran mereka sendiri, lho.

    "Nggak ada orang yang peduli dengan dirinya sendiri lebih dari dia peduli dengan orang lain."

    Terus, gimana ya biar nggak insecure?

    Semua itu bisa disiasati dengan kembali lagi ke tujuan awal kita melakukan sesuatu. Tanamkan mindset bahwa kita melakukan sesuatu bukan untuk memuaskan orang lain. Kita make up untuk kepuasan diri kita sendiri, bukan biar dipuja-puji cantik sama sekitar. Kita berkarya untuk menyalurkan seni dan imajinasi, bukan untuk menghitung angka di kolom likes.

    Untuk mencapai itu semua kita harus menyingkirkan apresiasi dan penerimaan orang-orang tentang kita. Karena percaya aja deh, mereka juga merasa insecure tau, sama kayak kita!

    "Kita selalu merasa kita melawan dunia, padahal kita adalah salah satu bagian dari dunia itu."

    Rasa insecure nggak melulu buruk. Kita bisa mengubah hal tersebut menjadi sebuah bahan bakar untuk kita meraih apa yang kita ingin capai. Namun, kalo kita melakukan sesuatu motivasinya cuma karena insecure, itu nggak akan bertahan lama. Maka dari itu, boleh banget lho menjadikan insecure itu sebagai bahan bakar awal, ketika di tengah jalan kita harus menemukan motivasi yang lebih positif sehingga kita melakukan sesuatu bukan karena dendam atau obsesi sesaat. Perlu untuk memaparkan tentang apa yang selama ini kita rasakan dan tentang ketakutan diri sendiri.

    Guys, we have to remember:
    Mustahil untuk memuaskan semua orang.
    Terkadang, kita takut untuk mengakui apa yang kita inginkan dalam hidup, makanya kita lebih memilih untuk mengikuti keinginan orang lain atau konfirmasi dari orang lain.

    If you want that shoes, just buy it.
    If you want to wear that dress, just wear it!

    Last, but not least. Jangan malas untuk terus mengenali diri sendiri. Sebuah seni dihasilkan bukan karena ketakutan atau butuh apresiasi dari orang lain.

    - fin


    Tulisan ini merupakan insight yang saya dapatkan dari Live instagram panutan saya @adjiesantosoputro dan @nagotejena yang membahas tentang insecurity pada tahun 2020.
    Continue Reading

    Pernah nggak berfikir kenapa ada suka dan duka, ada tawa dan tangis, ada pagi dan malam, ada hitam dan putih?
    Itu karena semesta selalu mencari keseimbangan atau biasa disebut dengan dualisme kehidupan.
    Konsep dualisme ini bukan hanya sebuah ide atau gagasan, melainkan sebuah kenyataan, realitas atau sesuatu yang mutlak dan pasti terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

    Kadang manusia cuman bisa menerima senang, lupa bahwa setelah senang selalu ada sedih menanti. Ingin hidup jalan lurus-lurus aja, lupa bahwa tiap jalan ada naik turun belok kanan belok kiri jangan lupa ngerem kalau nggak mau kenapa-kenapa.

    Semakin bertambah umur gini, jujur takut merasakan bahagia yang terlalu, sebab takut merasakan sedih yang terlalu juga. Tiap merasa hidup terlalu baik-baik aja atau lurus-lurus aja, ternyata di situ lah letak masalahnya.

    Walaupun begitu, tetep yakin aja tiap yang terjadi dalam hidup ini pasti ada pembelajaran yang bisa diambil, karena manusia memang ditakdirkan untuk selalu belajar, kan?

    Seperti itu lah kehidupan yang selalu mencari keseimbangan. Sekarang tinggal balik lagi aja ke manusianya, menemukan cara untuk mengontrol respon dari sesuatu yang masih bisa dikendalikan. Dan kuncinya, dijalanin aja. Dinikmatin setiap momen yang hadir baik suka maupun duka.

    Apapun itu memang nggak baik berlebihan. Dirasakan saja sewajarnya, agar ketika senang maupun sedih datang, setidaknya sebagai manusia yang memiliki keterbatasan ini masih sanggup untuk menikmatinya.
    Continue Reading

    Kenapa kita harus memaafkan?

    Layaknya manusia, perihal memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan. Karena kita semua punya ego. Ego ingin menang, ego ingin menjadi juara.

    Tidak jarang ego manusia selalu menuntut bahwa dia adalah yang paling benar dan terbaik. Rasanya setiap manusia pernah ada di posisi ini. Sudah sakit, harus memaafkan pula. Memangnya aku malaikat yang punya hati seputih salju?

    Namun, kalau berpikir kembali, tidak memaafkan bukanlah sebuah jawaban. Kebencian maupun dendam bukan solusi.

    Seperti tulisan saya sebelumnya tentang mencintai diri sendiri, salah satu cara mencintai diri adalah dengan memaafkan.
    Memaafkan ini bukan hanya tentang memaafkan apa yang telah orang lain lakukan kepada kita, pun perihal memaafkan diri sendiri maupun keadaan.

    "Memaafkkan itu untuk melepaskan rasa sakit, untuk kembali mengizinkan diri merasakan bahagia."

    Namun apabila ditelisik lebih jauh lagi, bukankah hidup dengan kebencian dan dendam akan jauh lebih sulit daripada memaafkan?
    Setiap kali melihat orang yang sudah menyakiti kita, tentu yang timbul hanyalah rasa amarah, penuh doa-doa buruk, dan perasaan negatif lain yang membuat hidup suram dan kehilangan warnanya.

    Proses memaafkan ini memang tidak mudah. It takes time. Butuh waktu, proses, dan pembelajaran seumur hidup. Yang terpenting memang ada tujuan untuk memaafkan, maka prosesnya silakan jalani dengan pelan-pelan.


    "Memaafkan juga berarti melepaskan dampak buruk yang dia berikan. Memaafkan bukan berarti kalah, justru saya adalah pemenang."

    Setelah rasa sakit yang dia berikan, saya memilih untuk memaafkan. Saya memilih untuk bahagia.
    Continue Reading

    Untuk teman-teman yang sedang merasa tidak baik-baik saja, sedang diabaikan, tidak dianggap, menjadi pilihan kedua, merasa tidak berguna, dan sedang dipatahkan hatinya entah karena cinta atau oleh siapa apapun itu.
    "Believe me, you are worth more than that.

    Mencintai diri sendiri memang nggak mudah. Kadang lebih sulit daripada mencintai orang lain. Namun, kalau mencintai diri sendiri aja belum bisa utuh, bagaimana bisa tulus menyalurkan cinta kepada yang lain?

    Ketika kita sudah mencintai diri sendiri, kita nggak akan membiarkan orang lain untuk menyakiti kita, merendahkan kita, apalagi sampai membuat kita merasa tidak berharga. Di titik ini lah pentingnya mencintai diri sendiri.

    Kalau sekarang lagi sedih dan merasa nggak baik-baik aja, lepaskanlah semua. Biarkan energi negatif itu keluar, karena memendamnya nggak akan menyelesaikan masalah sama sekali.

    Kalau itu sudah dilakukan, selanjutnya adalah menerima.

    Menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kendalikan. Itu semua baik-baik saja. Begitu lah cara semesta bekerja. Begitu lah roda kehidupan berputar. Dan itu bukan salah kita. Sama sekali.

    Rasanya, nggak ada satu pun di dunia ini orang yang pengen punya masalah. Nggak ada orang yang pengen merasakan sakit.
    Siapa, sih, yang nggak pengen hidup sempurna? Semua hal berjalan stabil dan sesuai dengan yang diinginkan adalah impian hampir semua orang.
    Namun, nggak ada kehidupan yang sempurna. Maka dari itu, mari belajar menerima semua yang hadir maupun yang hilang.

    Nikmatilah rasa, baik lara, duka, maupun sukacita.
    Rasakan seadanya, tidak perlu sedih berlarut-larut, pun jangan gembira penuh euforia sampai lupa segalanya.
    Lagi,
    Itu semua tidak mudah memang, Tapi begitu lah satu-satunya cara tetap menjaga kewarasan.

    Tidak berhenti hanya  sampai menerima kehidupan seutuhnya saja. Pun, perlu memaafkan. Memaafkan diri sendiri yang masih suka lupa diri. Maafkan diri yang tidak selalu memilih pilihan terbaik. Maafkan diri ini yang masih gagal memproteksi diri dari kesedihan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Maafkan diri masih memberikan orang lain ruang untuk menyakiti.
    Juga memaafkan keadaan yang tidak berjalan sesuai keinginan.
    Maafkan dan berdamailah.

    Kecewa dengan diri sendiri pun adalah rasa yang perlu dinikmati. Lagi-lagi, maafkanlah.

    Satu-satunya hal yang kita punya dan akan selalu setia dalam kehidupan ini hanyalah diri sendiri. Maka, sayangi dan cintailah. Diri ini pun ingin mendapatkan apresiasi, ingin dihargai, dan ingin dibahagiakan.

    Setiap manusia itu punya value. Juga kita.
    Berhenti lah mencari mereka yang tidak bisa melihat dan menghargai value yang kita miliki. Pergi dan lepaskan lah genggaman itu, mari cari tempat yang lebih baik yang lebih bisa menghargai kehadiran kita.

    Percayalah, ketika kita sudah mencintai diri sendiri, kita pun akan menghargai diri ini.
    Maka, jangan lagi terjebak pada orang atau situasi yang salah.

    Kita sama-sama tahu betapa sulitnya menerima keadaan yang tidak sempurna, berusaha berdamai pada hal-hal yang tidak utuh, oleh karenanya jangan pernah lagi memberikan kesempatan pada mereka yang tidak bisa menerima kehidupan kita, atau parahnya tidak bisa menghargai value yang kita punya.

    Karena dengan menerima semua yang ada pada diri ini, baik kekurangan maupun kelebihan, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk menerima kehidupan orang lain. Ini tidak hanya kepada pasangan, ini juga berlaku untuk teman-teman.

    Kita mungkin lahir dari keluarga yang tidak sempurna, dari lingkungan yang kurang baik, dari hal-hal tidak menyenangkan lain yang berada di luar kendali kita.
    Lantas itu tidak semata-mata membuat kita tidak berharga.
    Kita tetap satu kesatuan yang utuh.

    Kita yang menentukan bagaimana kita bersikap, bagaimana kita mengontrol reaksi dari apa yang orang lain lakukan pada kita, dan kita pula yang mengizinkan mereka boleh atau tidaknya menyakiti kita.
    Sisanya, serahkan pada semesta. Biarkan semesta bekerja.

    Karena kita hanya punya diri ini.
    Aku, kamu, kita semua berharga.
    Continue Reading

    Hidup tuh memang selucu ini ya.
    Kalau kemarin masih baik-baik aja, belum tentu hari ini.
    Yang hari ini masih ada, belum tentu besok tetap tinggal.
    Ketika cuma harapan yang jadi satu-satunya penguat hidup, lalu, saat harapan itu lepas, pergi, hingga akhirnya benar-benar hilang. Rasanya...hampa. Sesak. Sakit. Hampir gila.
    Kehilangan memang nggak pernah mudah. Seberapapun ukurannya.

    Ketika hampir setengah kisah hidup dibagi dengannya, maka, ketika si pendengar kisah hilang, rasanya seperti...setengahnya diri ini ikut menghilang. Apalagi yang pernah diceritakan adalah bagian-bagian hidup yang nggak sembarang orang tahu.
    Harus mencari sebagian yang telah dicuri, menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah hancur berserakan.
    Hasilnya? Tentu, tidak akan sama seperti awal mula. Memang satu, tapi tidak lagi utuh.

    Nyatanya, merelakan kehilangan itu nggak semudah bicara. Butuh proses panjang dan kompleks.
    Setengah hati menjalani proses tersebut sambil terseok-seok, sesekali mengambil nafas dalam dan menghembuskannya penuh beban.

    Menangis berkali-kali pun tidak akan mengubah kenyataan. Maka jalan satu-satunya hanyalah menerima lalu melepaskan hingga akhirnya merelakan.

    Ya sudahlah.
    Untuk teman-teman yang sedang merelakan, proses ini memang tidak mudah dan menyakitkan.
    Tapi, harus kuat dan tegar. Semuanya demi diri ini. Karena cinta diri sendiri. Nggak mau merasakan sakit terlalu lama, apalagi sesak yang suka datang tiba-tiba.
    Cukup.
    Kita jangan lagi menjadi bagian dari mereka yang terjebak masa lalu terlalu lama, sampai-sampai menyakiti yang tulus baik hatinya.

    Aku menunggu, kejutan lain dari semesta di depan sana.
    Continue Reading

    Welcome to 21s club. Orang bilang, memasuki awal 20 tahun itu adalah masa yang paling produktif. Masa transisi menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Mulai punya pemikiran-pemikiran tentang akan jadi apa di masa mendatang, bersikap lebih dewasa, mencari jati diri, menentukan setiap pilihan dan siap menerima risiko dari pilihan tersebut. Dan ternyata, menjalankan kehidupan di dua dekade itu memang nggak mudah. Bukan untuk mengeluh, hanya ingin menyampaikan rasa.

    Tepat empat hari yang lalu, saya menginjakkan kaki di atas angka 21. Dua buah angka yang bukan lagi usia muda, tapi juga tidak tua.
    Menjadi 21 dan meninggalkan 20 rasanya seperti melompati sebuah portal waktu ke tempat yang masih abu-abu. Kalau biasanya ulang tahun adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu, semakin menua ulang tahun menjadi hal yang biasa-biasa saja.

    Memasuki awal 20 itu berarti mulai meninggalkan apa yang tidak penting dan mulai memikirkan kehidupan secara lebih serius. Kalau tahun lalu saya berpikir tentang pencapaian apa yang saya dapat selama 20 tahun hidup, tahun ini saya mulai berpikir tentang bagaimana cara untuk memiliki hidup yang lebih baik.

    Beban-beban di pundak rasanya semakin berat. Ada orang-orang yang perlu dibahagiakan, juga ada diri ini yang mulai gerah sebab tak kunjung menemukan jati diri. Jika kemarin masih bisa tidur nyenyak dengan tidak melakukan apa-apa, hari ini sangat menyesal jika waktu tidak digunakan sebaik-baiknya.

    Menjadi 21 juga berarti harus siap mengambil keputusan-keputusan, besar atau kecil harus dipikirkan dengan matang tentang risiko yang akan didapatkan. Di usia ini pun pemikiran-pemikiran yang membandingi diri dengan teman-teman yang lain mulai bermunculan. "ah, dia umur segini udah bisa ini itu, kok saya belum ya?" "dia umur segini udah keluar negeri berkali-kali kok saya paspor aja nggak punya?" "dia umur segini udah punya prestasi segudang, kenapa saya nggak?" dan pemikiran-pemikiran lainnya.
    Boleh saja berpikir seperti itu, membandingkan diri dengan yang lain, asalkan hal itu dijadikan motivasi untuk bangkit dan terus memperbaiki diri, bukan untuk mengecilkan diri sendiri.

    Rasanya, masih ingat dengan jelas kemarin saya menulis tentang ulang tahun ke 16 di blog ini, sekarang si empunya blog udah 21 aja. Blog ini telah menjadi teman menua bersama saya, menjadi tempat cerita sejak pertama kali mengenal internet. Beban hidup kami bagi bersama.

    Jadi, begini ya, rasanya belajar dewasa?
    Continue Reading

    Today is February 2019 23;54 wita and i'm writing this.

    I was scrolling my files. Open the old folder one to another. My senior highshcool folders, then my junior highschool folders.
    Still scrolling down, opened one to another photos and I saw the photos of us in the class, the whiteboard writed 'February 2012'.
    I’m freezing. It was a long time ago, it’s been 7 years. But I still remember the detail of the memories in every photos.
    The atmosphere, the laugh, the people, the dramas, and the face that know nothing about life.

    My junior high school is one of the precious time in my life. It was full of up and down feelings. But i'm grateful that I can handle it, and I thank my self for not giving up.
    Now, I see that moment as a beautiful priceless memories. I can smile with no regret.

    Past is past, even now will be past too.
    The point is,
    you don't know how strong you are until you pass it and you can look back with the smile you never imagine before
    Sometimes we need to look back just to know how far we have gone

    Glad to see that precious smile too. The smile i’ve been miss for many years.


    Continue Reading

    Memasuki bulan ke delapan di tahun ini, waktu telah banyak terlewat, pengalaman serta cerita baru mengisi ruang hari ini, kemarin, dan yang akan datang.
    Seperti lirik dari banda neira, yang patah tumbuh, yang hilang berganti, begitu pula dengan apa yang terjadi, ada yang datang, ada yang pergi, dan ada yang bertahan. Delapan bulan terakhir waktu terasa berjalan begitu cepat, sekejap, tanpa aku sadar apakah ada yang terlewat.

    bukan hal mudah untuk menerima masa lalu, padahal masa lalu adalah kemarin dari hari esok yang kita nantikan. Berdamai dengan masa lalu berarti menerima hal-hal yang sudah terjadi di hidup, sekiranya hal yang baik, maupun hal yang tidak kita harapkan.

    Sesungguhnya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan atas dasar alasan pilihan yang aku pilih, ada ketakutan-ketakutan yang bahkan aku sendiri tidak paham, ada traumatis yang tidak bisa dikatakan.
    Setelah semuanya terjadi aku tersadar akan satu hal, biarkan aku berdamai dengan diri ku sendiri terlebih dahulu, menikmati kesendirian dengan merenung dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah ku buat.

    Aku tidak ingin membawa orang lain ke dalam kisah ku yang belum selesai, problematika hati yang tak kunjung mereda.

    Izinkan aku terbang bebas, mencari apa yang belum ku temukan, belajar mengerti dan mencintai diri sendiri agar aku pun siap menerima cinta dari yang lain.

    Aku percaya, semua yang pernah hadir adalah pelajaran yang mengiringi ku menuju kedewasaan, agar aku dapat tumbuh tinggi mengakar kuat.

    Semoga dirimu mengerti, aku pun sedang belajar mengerti diriku sendiri.
    Continue Reading



    Hari ini saya belajar bahwa dalam sebuah masalah selalu ada pelajaran yang dapat diambil. Tuhan pasti punya rencana yang baik. Saya yakin, saya percaya.

    Setelah segala hal pahit yang saya dapatkan, akan ada sesuatu yang manis yang saya rasakan.
    Dibalik kegagalan saya untuk bisa kuliah tahun ini, dibalik semua masalah yang terjadi, dari semua itu saya banyak belajar.

    Belajar ikhlas, belajar merelakan, belajar menjadi pribadi yang lebih kuat, belajar dan akan terus belajar.

    Kalau saya kuliah tahun ini, bisa jadi saya akan menjadi orang yang statis, tidak berkembang sama sekali, masih sama seperti satu tahun sebelumnya.
    Di Bali, saya sadar bahwa saya hanyalah anak manja yang berlagak sok dewasa. Saya belum punya mental sama sekali untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Di sini saya disadarkan betapa hidup tidak selalu berjalan baik-baik saja. Bahwa titik tertinggi dan titik terendah itu nyata. Di sini, saya paham bahwa segala hal mempunyai risiko.
    Kalau harus dijabarkan satu-satu, sungguh amat banyak yang saya dapatkan.

    Terkadang saya merasa 18 tahun hanyalah sebuah angka tak bermakna. Saya tumbuh, tetapi jiwa ini tidak berkembang. Dan, saya nggak mau terus-terusan seperti ini. Nggak mau lagi jadi anak yang cemen dan cengeng.

    Saya merasa.. saya seperti kehilangan waktu. Semua yang terjadi di 3 tahun belakang berlalu terlalu cepat tanpa saya mendapatkan makna. Setidaknya satu tahun semoga cukup untuk meningkatkan kedewasaan saya walau sedikit, saya ingin mengisi kekosongan itu perlahan. Sekarang saya mengerti alasan Tuhan belum mengizinkan saya kuliah tahun ini, karena ternyata saya masih butuh waktu.

    Yang terpenting dari semuanya, saya merasa bahagia. Di sini. Di tempat yang sama sekali bukan zona nyaman saya. Di Bali. I have learned a LOT.

    Don't grow up, it's a trap. But, you need to. 



    Sanur, 31 Oktober 2016
    Continue Reading

    Tahun ini adalah tahun ter-ter-berat buat gue. Ditolak dimana-mana. SNMPTN, SBMPTN, UTUL UGM. Rasanya seakan-akan dunia gue runtuh seketika. Kayak mimpi yang selama ini gue bangun hilang gitu aja. Padahal i’ve prepared all things buat kuliah jauh dari gue kelas 9 SMP dan sekarang.. gue cuman seorang pengangguran yang nggak tau mau kemana.

    Impian gue dari kecil itu kuliah. Ngga tau kenapa tapi gue pengen banget kuliah. That’s why gue memikirkan dengan matang sekali keinginan gue ini. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan ingin gue lebih menghargai lagi proses ini.

    Continue Reading


    Well,
    everyone seems like 'im okay, im fine, dont worry im okay'
    when people near you said something like that, don't belive it because that's the biggest lie in life.

    Continue Reading

    Pageviews

    About me

    Photo Profile
    Zahra
    Human Being

    Hi, i'm Zahra. I'd love to share about my life experiences and my healing journey. Rara's space is home for me since 2012 and I want this to be your home too. Feel free to greet me at the first place! Let's be friend :)

    KNOW ME MORE

    • goodreads
    • instagram
    • wattpad

    Tags

    Gap Year Lifestyle Self-Improvement Travel Writing

    Let's Be Friends!

    Sign UP

    Name

    Email *

    Message *

    Blogger Perempuan
    instagram goodreads linkedin

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top