Pages

  • Home
  • About
  • Contact
instagram goodreads linkedin

Travel in Between

    • Home
    • Gap Year
    • Lifestyle
    • Self-Improvement
    • Travel
    • Writing

    Untukmu,
    Semoga dalam keadaan baik.

    Dari semua kalimat yang tidak sempat tersampaikan, aku ingin katakan terima kasih. Karena pernah hadir dan sempat menghabiskan waktu bersama walaupun sebentar.
    Kehadiranmu bagi ku seperti cahaya. Memberikan terang di lorong yang gelap nan berdebu. Menenangkan jiwa dan memberi kekuatan pada diri yang rapuh.

    Tak semestinya aku merasa terluka apalagi berduka. Karena sesungguhnya kadar mencintai tertinggi adalah turut bahagia ketika melihat yang dicintai bahagia.
    Meski bahagianya bukan karena aku.

    Aku hanyalah sebuah jembatan yang menjadi teman kala kau kesepian. Sementara kau terus berjalan menuju dia yang telah menunggumu di ujung jalan. Aku hanya perantara yang menemanimu menuju bahagia. Maka, tidak semestinya aku merasa terluka apalagi berduka atas semua yang telah terjadi. Kini kau telah berbahagia. Dan tugasku sudah selesai.

    Mungkin benar, kau bukan ditakdirkan untukku. Sejak awal memang tak ada cinta diantara kita. Hanya aku yang terlalu peduli, terlalu mudah menaruh harapan hingga akhirnya tersakiti sendiri. Aku mengerti. Kau tidak berniat menyakiti. Kau hanya memperjuangkan cinta. Untuk apa memikirkan bagaimana perasaan ku tentang kepergianmu.
    Kau memilih apa yang paling baik untukmu, begitu kan?

    Namun, apabila hal itu berlaku pula untukku, boleh kah aku memperjuangkan cinta ini? Nyatanya, rasa ini begitu menggangu. Dia tak kunjung pudar meski kau telah hilang dari sisi.

    Di penghujung malam setiap harinya, aku bermimpi tentang kita. Merajut kasih sambil tertawa bersama. Duduk di beranda menonton senja sambil bercerita tentang rutinitas yang begitu-begitu saja. Kau dengan kopi susu favorite-mu dan aku dengan chamomile hangat yang menenangkan.
    Di sebuah bangunan yang kita sebut rumah, yang menjadi tujuan untuk pulang, yang kau rancang dan kau bangun sendiri. Karya yang selalu kau agung-agungkan, dan aku hanya bisa tertawa tiap kali kau memuji dengan berlebihan.

    Kini aku menyadari. Aku tidak semestinya terluka apalagi berduka atas kepergianmu. Aku semestinya terluka dan berduka atas mimpi-mimpi dan definisi tentang kita yang tak akan nyata.
    Continue Reading

    "Kenapa?"
    Sebuah pertanyaan yang dibalas kesunyian.
    Laki-laki yang berdiri di ujung jalan gelap ini bergeming. Tidak mengindahkan si gadis yang gemetar karena berusaha bertahan dengan sisa energi yang masih dimiliki.

    Dari sekian banyak kalimat yang ingin disampaikan, gadis itu pada akhirnya memilih diam sambil menatap sendu punggung laki-laki yang kini hampir tak terlihat. Semakin lama sosok itu semakin menjauh, buram, dan hilang dari pandangan.
    Dia menunduk. Meratapi jari-jari kakinya yang tidak terlindungi oleh alas kaki sama sekali. Rambutnya yang tergerai panjang menutupi sebagian wajahnya yang memerah. Dia marah. Dan kecewa. Atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak mendapat jawaban. Atas dirinya yang ditinggalkan dengan kebingungan. Atas semua janji yang ternyata hanya basa-basi.

    Ia tak lagi bisa menahan tangis, yang menderas beriringan dengan rinai hujan yang turun dari langit. Dia terpaku di tempatnya berdiri, dalam diam masih berharap laki-laki itu berbalik, dan membawanya ke pelukan.

    Ribuan detik yang menjadi belasan bahkan puluhan minggu pun terlewat, namun yang ditunggu tak kunjung kembali. Gadis itu menjalani hidup dengan memakan asumsinya sendiri, menebak-nebak jawaban atas pertanyaan yang tak kunjung mendapat pencerahan.

    Kepalanya riuh dan padat dengan seribu pertanyaan tentang bagaimana kini si laki-laki menjalani kehidupan. Apakah dia baik-baik saja, apakah dia makan dengan baik, apakah dia tidur dengan cukup, termasuk; apakah dia pernah memikirkanku meskipun hanya sekali?

    Satu waktu gadis itu marah dengan dirinya sendiri, bahkan hampir membenci. Jatuh berkali-kali dan rasa sesak yang tak kunjung hilang adalah temannya dalam menjalani hari-hari. Dia lelah dengan semuanya. Dia ingin kembali baik-baik saja. Setiap hari baginya adalah sebuah cobaan, hingga akhrinya menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan.
    Terkadang ia merutuki dirinya sendiri atas apa yang telah berlalu. Berandai-andai hubungan ini tidak pernah terjadi.
    Seandainya ia tahu bahwa mencintai akan semenyakitkan ini, tentu ia tidak akan membiarkan bibit cinta tumbuh dan berkembang.
    Seandainya ia tahu bahwa kisahnya akan berakhir pilu, maka tak akan diiyakan pertemuan pada sore itu.
    Seandainya ia tahu bahwa alasan mereka bertemu adalah untuk dipatahkan, ia tidak akan memberikan hatinya sejak awal.
    Seandainya ia tahu bahwa semua kata-kata dan afeksi yang diberikan adalah palsu, maka ia tidak akan mengamininya.
    Seandainya ia tahu bahwa dirinya hanya dijadikan tempat singgah sementara, maka ia tidak akan menjadikannya tujuan.

    Beberapa orang bilang ada kata-kata yang lebih baik tidak diucapkan, tapi sepertinya hal tersebut tak berlaku bagi gadis itu. Kenyataannya, kini ia masih hidup dalam bayang-bayang.
    Continue Reading


    Diantara pilihan benar atau salah, tuan menganggap berada di tengah adalah sebuah pilihan yang tepat. Maafkan bila diri ini lancang, namun apakah sebenarnya Tuan memang tidak punya pendirian?

    Tuan datang dengan harapan dan afeksi yang semu, memberikan kenyamanan pada puan yang kesepian. Puan yang malang jatuh hati pada Tuan yang hanya basa-basi, lumayan untuk menjadi teman cerita--kata Tuan.

    Puan yang ragu-ragu memilih tetap bertahan untuk menghormati kehadirannya, namun Puan lupa bahwa tak ada tamu yang menetap selamanya.

    Puan tidak pernah memintanya datang. Apalagi meminta untuk diporak-porandakan. Kehadiran Tuan tidak menyisakan apapun selain rasa sakit.
    Puan menangis sendirian di kamar, Tuan tertawa tanpa beban.

    Oh, Puan yang malang berusaha bangkit dari keterpurukan, sementara Tuan merasa benar karena tentu saja ego lebih besar daripada perasaan.

    Bagaimana, Tuan?
    Apakah menyenangkan bermain-main dengan hati seseorang?
    Sungguh di atas bahagia yang kini Tuan rasakan, ada sebuah perasaan berharga yang telah kau sia-sia kan.
    Tuan jangan menyesal, karena puan tidak kehilangan apapun, tapi tuan yang kehilangan puan.
    Continue Reading

    Aku apresiasi segala hal baik yang pernah kita lakukan bersama, pula hal-hal kurang baik yang menjadi bagian dari sebuah perjalanan untuk tumbuh.

    atas waktu yang selalu kita usahakan, pertemuan-pertemuan singkat di akhir pekan, dan hal-hal sederhana lainnya. Aku berterima kasih untuk itu.

    Tidak mengharap lebih untuk bab-bab baru pada cerita tentang kita, hanya saja bersamamu aku merasa dua kali lebih bahagia. Terima kasih telah membuat aku menjadi aku saat kita bersama, juga telah membiarkan dirimu menjadi rumah sementara.

    Kita adalah hal yang tidak pernah aku sesali.
    Kedai kopi sore itu merupakan saksi betapa aku bersyukur atas pertemuan kita. Sebab kamu adalah kado terindah dari semesta ditahun ini.

    Terima kasih telah mengambil peran didalam cerita ku. Aku ingin mengingatmu sebagai tokoh yang baik, sehingga mengenangmu tidak terasa menyakitkan lagi.

    Seperti yang pernah aku katakan padamu di hari perpisahan kita, aku hanya ingin kamu bahagia. Maka, mari saling membahagiakan dengan cara bahagia masing-masing.

    Know you in person was a blessing and met you was a good decision i've ever made, no matter how bad the ending it seems.
    Continue Reading

    Welcome to 21s club. Orang bilang, memasuki awal 20 tahun itu adalah masa yang paling produktif. Masa transisi menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Mulai punya pemikiran-pemikiran tentang akan jadi apa di masa mendatang, bersikap lebih dewasa, mencari jati diri, menentukan setiap pilihan dan siap menerima risiko dari pilihan tersebut. Dan ternyata, menjalankan kehidupan di dua dekade itu memang nggak mudah. Bukan untuk mengeluh, hanya ingin menyampaikan rasa.

    Tepat empat hari yang lalu, saya menginjakkan kaki di atas angka 21. Dua buah angka yang bukan lagi usia muda, tapi juga tidak tua.
    Menjadi 21 dan meninggalkan 20 rasanya seperti melompati sebuah portal waktu ke tempat yang masih abu-abu. Kalau biasanya ulang tahun adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu, semakin menua ulang tahun menjadi hal yang biasa-biasa saja.

    Memasuki awal 20 itu berarti mulai meninggalkan apa yang tidak penting dan mulai memikirkan kehidupan secara lebih serius. Kalau tahun lalu saya berpikir tentang pencapaian apa yang saya dapat selama 20 tahun hidup, tahun ini saya mulai berpikir tentang bagaimana cara untuk memiliki hidup yang lebih baik.

    Beban-beban di pundak rasanya semakin berat. Ada orang-orang yang perlu dibahagiakan, juga ada diri ini yang mulai gerah sebab tak kunjung menemukan jati diri. Jika kemarin masih bisa tidur nyenyak dengan tidak melakukan apa-apa, hari ini sangat menyesal jika waktu tidak digunakan sebaik-baiknya.

    Menjadi 21 juga berarti harus siap mengambil keputusan-keputusan, besar atau kecil harus dipikirkan dengan matang tentang risiko yang akan didapatkan. Di usia ini pun pemikiran-pemikiran yang membandingi diri dengan teman-teman yang lain mulai bermunculan. "ah, dia umur segini udah bisa ini itu, kok saya belum ya?" "dia umur segini udah keluar negeri berkali-kali kok saya paspor aja nggak punya?" "dia umur segini udah punya prestasi segudang, kenapa saya nggak?" dan pemikiran-pemikiran lainnya.
    Boleh saja berpikir seperti itu, membandingkan diri dengan yang lain, asalkan hal itu dijadikan motivasi untuk bangkit dan terus memperbaiki diri, bukan untuk mengecilkan diri sendiri.

    Rasanya, masih ingat dengan jelas kemarin saya menulis tentang ulang tahun ke 16 di blog ini, sekarang si empunya blog udah 21 aja. Blog ini telah menjadi teman menua bersama saya, menjadi tempat cerita sejak pertama kali mengenal internet. Beban hidup kami bagi bersama.

    Jadi, begini ya, rasanya belajar dewasa?
    Continue Reading

    Kasih, pada tulisan yang tidak akan pernah kamu baca ini, aku ingin berbicara tentang kita yang—aku rasa—belum selesai.
    Sejak aku kehilangan kamu beberapa tahun lalu, aku masih dilema tentang kita. Apakah benar ada kita saat itu, atau hanya ada aku yang menganggap kita itu nyata? Mungkinkah kenyataannya kita adalah ilusi dan asumsi yang aku buat sendiri?

    Di keheningan malam pulau dewata ditemani alunan nada dari playlist yang itu-itu saja, terlintas sebuah kutipan sajak dari seseorang yang paling aku kagumi.
    "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu....''—Sapardi Djoko Damono.
    Terdengar seperti analogi sederhana tentang kita. Ibarat kayu dan api, aku adalah kayu dan kamu adalah api. Kamu membakarku tanpa kata, tanpa rasa dan dengan tergesa. Membuat aku menderita. Jika aku harus berakhir menjadi abu, maka bakarlah aku dengan benar, agar tidak ada sisa-sisa nostalgia yang membuatku merasa sakit tiap mengingat dirimu. Namun, kamu harus selalu ingat dengan frasa awal sajak itu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

    Kasih, tahukah bahwa kata-kata yang tak sempat diucapkan ini telah menjelma menjadi cerita-cerita yang masih ku simpan rapat? yang menunggu waktu untuk dilepaskan. Namun, aku sampaikan kepada barisan aksara itu bahwa aku tidak bisa membebaskannya, sebab si pendengar cerita sudah hilang dimakan angin.
    Diantara jeda waktu keheningan kita, aku berusaha memahamimu yang telah menghilang cukup lama. Berusaha mendapatkan premis demi menemukan sebuah kesimpulan semu.


    Pertemuan yang diawali dengan biasa dan diakhiri tanpa aba. Apabila dua manusia pada umumnya bertemu dengan 'hai' dan diakhiri dengan 'selamat tinggal', maka aku dan kamu adalah dua manusia yang bertemu dengan 'hai' dan diakhiri dengan kesunyian.
    Kesunyian yang menuntut penjelasan.

    Kasih, apakah kita benar-benar selesai?
    Continue Reading

    Bali, 13 Oktober 2018

    Ini bukan waktu yang cukup untuk benar-benar melepaskanmu—jika kamu ingin tahu. Hey, aku tidak bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja seperti tidak terjadi apapun diantara kita. Aku tidak pandai berpura-pura, termasuk berpura-pura tidak mencintaimu. Luka ini masih basah, belum kering karena kepergianmu, sudah kau goreskan lagi luka baru dengan kehadirannya.

    Aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih memikirkanmu disela-sela kesibukan. Ketika aku mengganti sprei, ketika aku berjalan, bahkan ketika aku mendengarkan dosen menjelaskan. Kamu ada di mana-mana, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghapusmu. Setidaknya jangan lagi muncul di mimpiku, berikan aku sedikit saja ruang tanpamu.

    Sementara kamu sudah berbahagia dengan yang lain, aku masih mengumpulkan sisa-sisa kenangan kita. Takut lenyap dan hilang ditelan semesta.
    Pada detik aku menuliskan ini, Kasih, aku merindukanmu dengan sangat, tidak menuntut untuk sebuah balasan, hanya ingin menyampaikan—aah, aku baru ingat kalau tulisan ini tidak akan pernah sampai.

    Aku tahu tidak seharusnya aku seperti ini ketika kamu sudah menjadi milik orang lain, namun, rasa tidak pernah salah, yang salah itu menaruh asa di tempat yang tidak tepat. Dan aku terlanjur menaruh asa padamu.

    Bersama tulisan ini ingin aku sampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya, maafkan aku yang tidak berani memperjuangkanmu, membiarkanmu berjuang sendirian hingga lelah dan menyerah. 

    Tapi, tidakkah kamu berpikir memberikan kesempatan kedua untukku? maksudku, untuk kita—itupun jika kamu masih menginginkan kita.
    Continue Reading

    Bali, Agustus 2017

    Halo, kamu yang hilang dimakan angin.
    Apa kabar?
    Cukup aneh rasanya mengetikkan ini ketika aku tahu bahwa yang aku tulis tidak akan pernah kamu baca.
    Biarkan aku menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum melanjutkan tulisan ini. Sebab ini berat untukku—meskipun masih lebih berat hari-hari yang aku lalui tanpa kehadiranmu lagi.
    Tahu apa yang lebih sulit daripada menerima? yaitu melepaskan apa yang belum sempat digenggam sama sekali. Seperti menatap bayang-bayang di kegelapan malam, alias nggak nyata. Karena kenyataannya kamu adalah hampir yang hanya mampir.

    Ketidakhadiranmu membuatku mengulang adaptasi dengan keadaan yang baru, dan aku sedang berusaha untuk itu. Menyimpan rapat-rapat segudang cerita yang merengek untuk disampaikan, pikiran-pikiran sederhana yang minta didiskusikan, serta menahan rindu yang meronta untuk dilepaskan.
    Tidakkah kamu merasakan hal yang sama dari jarak 1400 km di sana?
    Aah, ngomong-ngomong soal jarak. Apa yang salah dengan jarak? bagi ku, itu hanyalah angka di atas peta. Dan aku tidak benar-benar peduli, sungguh. Jarak itu baik, dia yang menyadarkanku bahwa aku membutuhkanmu. Tiada satu hari pun aku tunggu tanpa pesan singkat darimu—jika kamu ingin tahu.
    Salahkan aku yang mempunyai ingatan tajam jika itu menyangkut perasaan, segala yang kamu katakan satu tahun lalu masih teringat dengan jelas, dan hati menanti untuk menjadi nyata. Iya.. nyata untuk menjadi sebuah omong kosong alias basa basi. Ekspektasiku terlalu tinggi tentang kamu, berharap kamu menepati semua janji itu. Aku pikir, kamu tidak akan pergi. 

    Hey, tidakkah kamu ingin berkeliling denganku? Biarkan aku mengenalkanmu dengan tempat-tempat asing yang baru aku datangi. Agar kamu pun merasa apa yang aku rasakan sekarang. Aku ingin bercerita tentang kedai kopi yang singgahi siang tadi, tentang aku yang kebosanan menunggu  sarbagita, tentang hari pertamaku menjadi mahasiswa, atau tentang aku yang seorang diri mendengarkan ombak di pantai sambil menunggu matahari menghilang—dalam diam menaruh harap ditemani kamu.

    Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang mendengar cerita serta keluh kesahku. Namun, aku menyadari bahwa aku bukan orang yang ingin kamu dengarkan ceritanya.

    Segera kembali lah, sebelum rasa ini pudar ditelan semesta.



    dari aku,
    yang katamu mataharimu.
    Continue Reading

    Denpasar, Oktober 2017, 21:48 wita

    Untuk Tuan, yang sempat hadir.
    Tuan, apa kabar?
    Aku baik-baik saja.
    Disini hujan deras sejak pagi.
    Gelap dan sendu.
    Dan aku, masih memikirkanmu.
    Terus menerus.
    Tanpa henti.
    Dan merindukanmu.
    Lagi dan lagi.
    Dan menantimu.
    Setiap hari.
    Lekas kembali, Tuan.

    -z
    Continue Reading


    Kamu yang mengingatkanku tentang rasanya cinta ketika aku sudah lupa
    Kamu yang mengingatkanku rasanya jatuh ketika aku sudah baik-baik saja
    Thanks for left,
    and never come back.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Pageviews

    About me

    Photo Profile
    Zahra
    Human Being

    Hi, i'm Zahra. I'd love to share about my life experiences and my healing journey. Rara's space is home for me since 2012 and I want this to be your home too. Feel free to greet me at the first place! Let's be friend :)

    KNOW ME MORE

    • goodreads
    • instagram
    • wattpad

    Tags

    Gap Year Lifestyle Self-Improvement Travel Writing

    Let's Be Friends!

    Sign UP

    Name

    Email *

    Message *

    Blogger Perempuan
    instagram goodreads linkedin

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top